Teropong – Wehea adalah sebuah sub suku dayak, dulu mereka serumpun dengan Dayak Kelai, ada Dayak Ja’ai ada juga yang menyebut mereka Suku Long Wai atau dipopulerkan dengan sebutan Dayak Modang. Kemudian ada juga Suku Long B’lat, lalu kemudian dikenal dengan  Suku wehea seperti yang disampaikan Pak Ledjie Taq, Kepala Lembaga Adat Wehea.

Nama pemukiman desa mereka adalah Desa Nehas Leah Bing, konon ceritanya asal muasal desa ini dahulu kala mereka hidup berpindah pindah tinggal di tepian Sungai Kejen, dengan hidup berpindah pindah dari tepian ke tepian sungai hingga Sungai Khayan. Lalu pada saat itu terjadilah perang saudara, yang mana orang Wehea sendiri berperang dikarenakan masalah Pelanggaran Adat yang dilakukan. Akhirnya beberapa orang melarikan diri keluar dari kelompok tersebut, hingga bermukim di daerah tepian Sungai Benyien, dulu dikenal orang dengan nama sungai Vanping. Lalu mereka membuat pemukiman hingga menjadi sebuah Kampung, yang kononnya Kampung tersebut adalah sebuah dataran. Karena terjadinya pelanggaran Adat yang dilakukan maka terjadilah angin ribut dan badai yang hebat !, beberapa orang meloloskan diri dari peristiwa tersebut. Akibat dari kejadian tersebut daerah dataran  itu berubah menjadi gunung, Orang Dayak Wehea menyebutnya Kung Byeng atau Gunung Kembeng atau sekarang lebih dikenal dengan Gunung Kombeng. Bagi yang lolos dari peristiwa tersebut beberapa hanya yang selamat kembali ke lokasi tersebut dan bermukim serta berladang yang kemudian di ikuti oleh orang-orang Wehea yang lainnya pun, dengan itu mereka memberi nama kampung tersebut dengan sebutan kampung Nehas Leah Bing, Nehas berarti Pasir dan Leah Bing adalah seorang tokoh laki-laki yang lolos dari peristiwa tragis dataran tanah  berubah menjadi Gunung Kong beng. Kampung ini sudah berumur kurang lebih 400 tahun. Disayangkan tidak ada catatan sejarah yang tertulis, hanya sebuah cerita dari orang tua terdahulu secara turun temurun atau dari mulut ke mulut.

Dengan keberadaan orang Wehea di tepian sungai Wehea yang mana mereka memberi namanya sesuai dengan nama suku mereka, dimana dulunya disebut Sungai Long Mesa Teng. Dan mereka terus menerus beraktivitas berladang dan berburu. Dengan tunduknya Pemimpin Orang Wehea kepada Pemerintahan Kesultanan Kutai Kertanegara pada saat itu, melalui Sultan Kutai memberikan gelar kepada Kepala Suku Wehea, sampai mereka pun rutin memberikan upeti kepada Sultan Kutai di Tenggarong. Karena berbeda aksen vocal pada orang Kutai maka Raja Sultan Kutai meyebut suku Wehea ini menjadi Suku Bahau, yang mana Suku Dayak Bahau memang berada tinggal di tepian sungai Mahakam hingga suku Wehea terikut ikut menjadi Suku Bahau.Dimana di kalangan orang Wehea sendiri masih meyebut dirinya orang Wehea. Terlebih dulu menguasai wilayah tepian Sungai Wehea ini dan kemudian di ikuti sub suku suku yang lain, Suku Wehea belum terdaftar dan terdokumentasi dengan suku-suku di Internasional bahkan Nasional. Warga Suku Dayak Wehea memperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan terhadap Hukum Adat Dayak Wehea melalui DPRD dan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.

Untuk itu berdasarkan asal muasal suku Dayak Wehea di daratan ini, mereka selalu melaksanakan pagelaran Upacara Adat Lomplai, yang mana Lom berarti Pesta. Dan kata Naq Lom berarti Membuat pesta atau syukuran keselamatan terhadap manusia. Kata Laq Lom berarti Pengobatan terhadap orang-orang yang sakit atau diganggu roh jahat, Jadi kata  Lom plai adalah Pesta, Syukuran akan hasil panen padi (Naq Lom) menurut orang Kutai biasa disebut Erau Padi. Kenapa Orang Dayak Wehea meyelenggarakan Naq Lom ?…Menurut kepercayaan Dayak Wehea bahwa Padi tersebut berasal dari seorang manusia. Konon cerita dari orang tua terdahulu suku Dayak Wehea, bahwa jaman dahulu terjadi musibah Kemarau yang berkepanjangan yang membuat banyak binatang, ternak-ternak, ladang, tumbuh tumbuhan hutan dan Manusia mati karena kepanasan serta kekurangan makanan. Pada akhirnya suatu hari seorang Ratu melalui mimpinya di datangi sesosok Doqton Kiyae atau Dewa Penguasa saat itu. Lewat mimpinya meminta Ratu mengorbankan anak putrinya yang semata wayang dan cantik jelita yang bernama Putri Long Dyang Yung demi untuk menyelamatkan orang banyak, sehingga membuat Ratu menjadi sedih. Dengan terpaksa Putri Long Dyang Yung dikorbankan, karena itu Putri Long Dyang Yung mengucapkan sumpah kepada manusia yang menikmati padi harus menghormati dan menghargai padi, bagi yang tidak menhormati Padi akan tertimpa malapetaka berupa celaka, sakit bahkan pendek umur dan Anak padi ini harus di buatkan Erau atau Syukuran. Seperti orang tua membuat syukuran untuk anak-anaknya setiap tahun.

Sehingga sampai sekarang orang Dayak Wehea sampai saat ini masih melaksanakan Naq Lomplai atau erau syukuran padi. Diwajibkan semua warga yang ada dikampung tersebut harus membuat hidangan masakan ketan lemang, Biang Bit biasa di campur dengan gula merah, pisang, santan kelapa yang di masak dalam bambu. Acara Lomplai ini adalah pesta adat dan budaya yang artinya didalamnya ada Adat nya. Oleh sebab itu diharapkan supaya agar masa tahun tanam sampai panen padi jika kita ada membuat pelanggaran dengan di laksanakan Lomplai ini semoga yang sakit-sakit bisa sembuh, malapetaka pergi menjauh. Biasanya sebelum puncak acara orang Wehea beramai-ramai menghias kampung dan membangun pondok-pondokan di sepanjang pinggiran tepian Sungai Wehea bertujuan untuk tempat bernaung selama acara Adat tersebut dilaksanakan hingga sampai  jam 08:00 Pagi hari. Pukul 08:00 – 11:00 tuan rumah disetiap keluarga mempersilahkan tamu-tamunya beserta keluarga menikmati hidangan yang sudah tersedia. Jam 11:00-13:00 Orang Wehea, tamu dan peserta acara Adat turun ke pinggiran tepian Sungai untuk menyaksikan olahraga tradisional Saq Siang atau tombak teberau yang dimana di setiap personel perahu melontarkan tobak-tombakan dan lomba  beradu perahu Panjang, kegiatan ini sambil menunggu kaum perempuan melaksanakan Ritual Adat bersih-bersih kampung, artinya membersihkan kampung dari malapetaka dan wabah penyakit atau kesialan, tujuannya agar kampung, ternak  sehat serta tanah subur dan tanaman lestari. Sesudah itu Para kaum Laki-laki naik ke daratan kampung yang di dahului Tetua-tetua Adat yang disirami air secara simbolis yang artinya menyatakan bahwa kampung sudah bersih menandakan kita juga harus bersih secara jasmani. Kemudian ada juga rumput yang digantung terletak disebelah kanan rumah baik ditangga maupun pintu masuk, sebelum naik atau masuk kita terlebih dulu menyentuh rumput tersebut lalu kemudian membuang ludah, masudnya segala yang jahat atau yang tercuci dengan air kotor, dengan meludah rumput tersebut kita akan hambar atau di tawar dari sakit penyakit. Kemudian kaum laki-laki pergi kerumah Adat atau biasa di sebut Maluq Gong, menabuh Genderang atau sejenis bedug besar dan memalu Gong, yang menandakan bahwa kegiatan resmi dilaksanakan.

Di akhir acara ini biasanya warga beramai-ramai dengan  bersukaria saling siram meyiram air sungai wehea serta memoleskan arang ke bagian wajah atau tubuh, yang  dimana ini adalah memenuhi kegiatan Adat juga. Setelah itu di puncak acara seluruh warga Dayak Wehea menampilkan Seni budaya tari-tarian dari tabuhan Gendang, bedug, karawitan dan Gong di sebuah halaman luas. Beriringan dengan itu di tampilkan juga Tarian Hudoq yang  fenomenal, Hudoq atau tarian Jin, yang mana menurut kepercayaan orang Wehea bahwa jin-jin ini ada yang berasal dari dalam tanah, dalam air dan dari Khayangan. Disitu juga Kepala pemimpin ritual atau dukun menyampaikan sesajian-sesajian untuk ritual. Kenapa hal budaya ini dilaksanakan, karena Hudoq ini bisa membawa malapetaka atau keberuntungan jika kita melaksanakan kegiatan Lom plai ini dengan baik, artinya agar tahun tanam padi yang akan datang akan subur dan lebih baik. Jika panen gagal, Kegiatan Adat Lomplai ini tetap wajib dilaksanakan.

Kampung desa Nehas Leah Bing ini pernah dilanda banjir besar. Sehingga membuat mereka gagal panen, terpaksa mereka mengosumsi ubi singkong atau tubuhan-tubuhan yang masih ada tersisa yang bisa dimakan. Dulu banjir ini biasanya terjadi 3 kali dalam setahun, tetapi sekarang bisa terjadi hingga 20 kali dalam setahun. Karena kurang bijaksananya manusia sekarang menghargai alam sehingga hutan menjadi gundul dan gersang. Dan inilah yang membuat Warga Adat Dayak Wehea memperjuangkan hutan lindung Wehea tahun 2008, Hutan Lindung Wehea mendapat mendapat penghargaan ke III tingkat dunia Internasional. Pada saat itu berkumpul 2500 Para Peneliti dunia Van Couver, Canada untuk menilai hutan-hutan lindung yang ada di dunia. Hutan Wehea ikut berkompetisi, yang hasilnya juara I Laut Solomon, juara ke II Hutan lindung Bolivia, Juara III Hutan lindung Wehea Indonesia dan Juara ke IV adalah Hutan Lindung Mexico. Bapak Ledjie Taq pernah studi banding dengan Hutan Lindung Danau Pale, Malaysia. Dimana pengelolaan sangat bagus dan terawat, “Kenapa Bisa Begitu”, tanya Beliau. Menurut mereka orang Malaysia satu-satunya hutan lindung didunia yang di lindungi oleh Hukum Adat hanya Hutan Wehea, sedangkan di tempat kami dilindungi oleh Hukum Negara atau pemerintah Kerajaan. Sehingga tahun 2004 Hutan Lindung Wehea di Kukuhkan secara Adat Wehea, 2005 melaksanakan rapat Adat Besar Wehea untuk membuat aturan-aturan melindungi hutan tersebut sekaligus membentuk PM “Petquq Mehue”atau penjaga hutan. Dan banyak antusias warga terlibat untuk berpartisipasi, karena hutan ini adalah sisa-sisa hutan Wehea yang dulu pernah ada.

Budaya Suku Adat Wehea tidak terlepas dari lingkungan dan hutan beserta seluruh kehidupan didalamnya, mereka memandang bahwa hutan adalah kehidupannya bukan hanya sebagai sumber penghidupan tetapi juga sebagai Roh (Spiritual) yang memberi kehidupan. Itulah nilai-nilai luhur kearifan local sebagai budaya yang terus diwariskan turun- temurun hingga saat ini tetap terjaga di dalam Hukum Adat yang teguh mereka pegang.

 

https://www.youtube.com/watch?v=MLEQ_i5BXkw

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here