TEROPONG – Bupati Ardiansyah Sulaiman Menghadiri Deklarasi Perkebunan dan Penggunaan Lahan Berkelanjutan di wilayah Kecamatan Kongbeng dan Muara Wahau.Kabupaten Kutai Timur.

Acara yang digelar secara daring dan tatap muka berlangsung di Aula Kantor Bappeda. Bukit Pelangi Senin, (11/10/2021)pagi.

Dalam sambutanya Ardiansyah menegaskan Pembangunan sektor perkebunan khususnya kelapa sawit telah memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Namun, pembangunan sektor perkebunan tetap harus memperhatikan unsur pelestarian sumberdaya alam dan unsur keberlanjutan yang meliputi pemanfaatan lahan termasuk kegiatan ekonomi secara inklusif.

“Ini Sejalan dengan pelaksanaan misi Kepala Daerah ke 5 (lima) yang termuat di dalam RPJMD Kutai Timur Tahun 2021 – 2026 yaitu “Mewujudkan sinergitas pengembangan wilayah dan integrasi pembangunan yang berwawasan lingkungan”, ucapnya

Lebih lanjut,sistem perkebunan dan penggunaan lahan keberlanjutan harus dibangun dengan memenuhi prinsip perencanaan, monitoring, dan kepatuhan terhadap Rencana Tata Ruang Desa (RTR Desa) serta penguatan terhadap kapasitas SDM dalam rangka pelaksanaan praktik perkebunan yang baik bagi pekebun swadaya.

Dengan adanya pelaksanaan sistem Perkebunan dan Penggunaan Lahan di Kabupaten Kutai Timur diharapkan mampu mendorong peningkatan kesejahteraan di semua pihak termasuk pekebun swadaya,

“Secara tidak langsung akan berdampak pada pengentasan kemiskinan yang merupakan salah satu dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustaanable Doelopment Goals – SDGs). “tutupnya

sementara itu Ripto Widargo Kabid Ekonom Bappeda mewakili Kepala Bappeda mengatakan tujuan dari deklarasi ini adalah dalam rangka mendukung visi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dengan salah satu misinya “Mewujudkan Sinergitas Pengembangan Wilayah dan Integrasi Pembangunan yang Berwawasan Lingkungan”.

“Deklarasi Ini melibatkan Pemerintah Kabupaten Kutal Timur, Pemerintah Desa, 8 Perusahaan, 4 Mitra Pembangunan( Bidang Perkebunan) serta 9 Koperasi dan Asosiasi Perkebunan yang ada di 2 Kecamatan Muara Wahau dan Kongbeng.

Selanjutnya ada dua koperasi Perkebunan swadaya (Koperasi Jasa Mutiara Kongbeng-KJMK dengan luas 240 Ha & Koperasi Prima Pantun-KPP dengan luas 191 Ha) yang mendapatkan sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

“Sertifikasi ini akan memberikan jaminan terbangunnya rantai pasok kemitraan (antara perusahaan perkebunan dan perkebunan swadaya) dan insentif atau kemudahan yang ditawarkan sehingga akan marnpu mendorong kegiatan ini secara masif dalam skala yang lebih luas.”terangnya

Lebih lanjut, Dalam Deklarasi itu sekaligus Menetapkan “Zona Lindung” dengan total luasan sekitar 10.600 ha, yang terdiri dari Hutan Konservasi Sungal Mejang Milau Baru seluas 075 Hektare , Hutan Desa Miau Baru 1992 Hektare,Hutan Kemitraan Kehutanan Miau Baru 2613 Hektare,Area Lindung Lainnya di Miau Baru 510 Hektare ,Area Lindung Lainnya di Suka Maju 826 Hektare, serta Area Lindung Lainnya di Makmur Jaya 616 Hektare,Ruang Terbuka Hijau di tujuh Desa 19 Hektare dan Area Perlindungan di tujuh desa seluas 3069 Hektare meliputi sungai, danau, resapan air, mata air). (Q/Tj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here