Ditulis oleh Prof. Amri Marzali (Antropolog).Untuk memahami apa itu agama secara konkrit, antropologi cenderung mengambil contoh dari agama natural atau agama lokal. Bukan agama dunia seperti Nasrani, Islam, Hindu, atau Buddha. Berikut ini akan digambarkan kasus agama Kaharingan, yaitu satu agama asli suku Dayak di Kalimantan yang sudah hampir punah. Kasus ini sudah pernah saya tulis dalam tulisan saya yang lain (Eskatalogi Kaharingan, belum terbit).

Menurut Kertodipoero, meskipun terdapat berbagai variasi dalam konsepsi keagamaan Orang Dayak, namun bila diperhatikan benar-benar, dalam segala perbedaan itu terdapat kesamaan-kesamaan yang pokok. Kesamaan-kesamaan itu disebut oleh Kertodipoero sebagai agama Kaharingan (1963). Kelompok-kelompok Dayak yang dikenal sebagai pendukung utama agama Kaharingan adalah Ngaju, Ot Danum, Ma’anyan, Lawangan, dan Dusun. Nama Kaharingan sebagai agama asli Orang Dayak disetujui oleh tokoh masyarakat Dayak yang terkemuka, almarhum Tjilik Riwut.

Meskipun demikian, terdapat beberapa peneliti agama Dayak yang tidak sejalan dengan Kertodipoero, yang menyebut nama agama sesuai dengan nama kelompok Dayak yang ditelitinya, seperti Ngaju Religion oleh Hans Schärer dan Kayan Religion oleh Jérôme Rousseau.

Agama Kaharingan telah diakui oleh Pemerintahan Republik Indonesia sebagai agama resmi sejak tahun 1973, digolongkan sebagai satu aliran dari agama Hindu, meskipun secara substansial Kaharingan tidak kena mengena dengan agama Hindu. Agama itu diberi nama Hindu-Kaharingan (Dyson & Asharini, 1981: 13).

Inti dari agama Kaharingan menurut Majelis Ulama Kaharingan adalah:

  • Percaya kepada satu Tuhan, yaitu satu dewa tertinggi, Ranying hatala langit, yang menciptakan alam semesta beserta segala isinya.
  • Percaya bahwa segala makhluk hidup dan benda-benda tertentu memiliki semangat atau nyawa.
  • Punya institusi formal bagi pembinaan dan pengembangan agama Kaharingan, yaitu Balai Kaharingan.
  • Upacara pemakaman kedua atau pembakaran tulang (tiwah).

Keempat prinsip agama Kaharingan di atas mengandung tiga komponen utama agama, yaitu kepercayaan kepada makhluk dan kekuatan adikodrati, ritual pembakaran tulang, dan organisasi penyelenggara agama.

Kaharingan adalah sebuah agama politeisme, mengakui banyak dewa. Dewa Ranying hatala langit, dengan lambang burung (bungai), menguasai dunia atas, sedangkan dunia bawah dikuasai oleh dewa Bawin jata balawang bulau dengan lambang naga (tambon). Di bawah kedua dewa tertinggi itu terdapat lima nama dewa-dewa perantara, yaitu Raja Pali, yang tinggal di alam atas dan mengurus kejadian-kejadian pelanggaran adat dan taboo, Raja Ontong, yang tinggal di alam atas dan mengurus sumber rejeki, kekayaan, dan kemakmuran, Raja Sial yang tinggal di alam bawah dan membawa kesialan, kecelakaan, bencana, dan kematian, Raja Hantuen, yang tinggal di alam bawah dan menjadi sumber kerusuhan, gangguan, dan kerusakan bagi manusia, dan Raja Peres, yang tinggal di sebuah pulau di tengah lautan dan bertugas mendatangkan segala macam wabah penyakit berbahaya.

Di bawah kelima dewa itu terdapat lagi sejumlah dewa-dewa lain, yaitu Tempon telon yang menolong menghantar roh ke negeri roh, Sangumang yang menjadi tempat meminta bantuan ketika susah, Antang bajela bulau yang memberi tanda-tanda alamat dan perlindungan dari bahaya, dan Jarang bawahan tempat meminta kekuatan dan keperkasaan (Schärer, 1963: 20; Ukur, 1971: 31-32). Disamping dewa-dewa, Kaharingan juga mempercayai adanya berbagai makhluk gaib dan kekuatan-kekuatan adikodrati yang berseliweran di sekeliling kampung mereka.

Penganut Kaharingan percaya bahwa manusia tidak pernah mati. Apa yang disebut dengan mati adalah semacam perpindahan tempat kehidupan saja, pindah hidup dari alam fana (dunia) ke alam baka (akhirat). Setelah mati dan dikubur dengan segala upacara, roh orang mati berubah menjadi hantu, yang tinggal di tempat-tempat tertentu sekeliling kampung. Tempat tinggal yang ideal bagi roh-roh itu adalah di negeri roh atau lewu liau. Negeri roh bukan neraka bagi orang berdosa, bukan pula surga bagi orang yang baik, tetapi negeri yang penuh kemewahan dan kesenangan untuk semua roh siapa saja. Untuk sampai ke negeri roh orang mati harus diantarkan dengan upacara pemakaman kedua atau tiwah.

Orang-orang yang kaya dan mampu dapat menyelenggarakan lagi satu upacara khusus setelah tiwah, yaitu upacara balian naju’. Maksudnya adalah untuk mengantarkan roh ke tempat yang lebih tinggi lagi, yaitu bawo langit. Jika hal ini tercapai berarti roh sudah mencapai derajat yang sama dengan dewa atau kalalungan.

Upacara pembakaran tulang dalam pemakaman kedua (tiwah) biasanya diselenggarakan tujuh hari tujuh malam. Karena biayanya besar, penyelenggaraan biasa dilakukan bersama oleh beberapa keluarga yang tinggal di beberapa desa berdekatan.

Sampai sekarang tidak ada yang tahu bila tradisi tiwah dimulai. Tiwah sudah dilaporkan dalam penelitian Harderland tahun 1858 (Schärer 1963). Sejak tahun 1970an gairah untuk menyelenggarakan tiwah sudah menurun. Sebagian besar masyarakat Dayak masa kini kurang mengerti hakekat tiwah, apalagi tentang bahasa Dayak klasik (basa sangiang) yang digunakan dalam upacara tiwah.

Namun demikian, faktor utama menurunnya gairah dalam penyelenggaraan tiwah adalah makin berkurangnya penganut agama Kaharingan. Sebagian besar Orang Dayak telah pindah menjadi Kristen atau Katholik, sebagian kecil lain masuk Islam. Kalau masih ada mantan penganut Kaharingan yang menyelenggarakan tiwah pada masa kini, maka itu  adalah karena ketakutan akan gangguan kemarahan hantu nenek moyang jika mereka tidak menyelenggarakan tiwah.

Peti Papuyan. Kuburan tempat menyimpan sisa pembakaran tulang-tulang nenek moyang setelah upacara tiwah.

 

 

 

 

https://www.bloggerkalteng.id/2014/10/upacara-tiwah-tiwah-sacred-ceremony.html

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here